Sabtu, 28 Desember 2019

Tugas UAS Komunikasi Kesehatan

UJIAN AKHIR SEMESTER
DAMPAK ROKOK ELELTRIK PADA GENERASI MILENIAL
Essai  Ini  Disusun  Untuk  Memenuhi  Tugas  Ujian  Akhir  Semester  Komunikasi  Kesehatan
Dosen Pengampu : Dela Aristi, M.KM., & Gitalia Budhi Utami S.KM.,M.KM




Disusun Oleh:
NurYani (11181010000114)
Kelas 3A Kesehatan Masyarakat 2018

PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
DESEMBER
2019

 Istilah Generasi jaman now atau sering kita dengar dengan sebutan kaum milenial adalah suatu generasi atau kelompok demografi setelah Generasi  X yaitu generasi Y juga akrab disebut Millenials generation. Menurut para ahli biasanya menggunakan awal 1980-an sebagai awal  generasi yang lahir pada kelompok ini dan pertengahan tahun 1990-an sampai awal 2000-an sebgai akhir kelahiran.
Membahas tentang generasi milenial akan terlalu panjang jika dijabarkan saat ini. maka pada kesempatan ini lebih membahas tentang tren yang  menurut banyak anak milenial menyebutnya hal yang keren,glamor ,atau punya daya tarik tersendiri bagi kaum milenial tapi mereka tak tahu pengaruh bagi tubuh. Pokok pembahasaan kali ini Yaitu: Dampak Rokok Eleltrik pada generasi milenia Banyak dari sebagian mereka yang tidak mengetahui dampak apa yang terjadi jika menggunakan rokok elektrik akrab terdengar dengan sebutan vape. Vape adalah sebuah elektronik yang membuat sebuah  liquid di ubah menjadi uap awalnya vape berasal dari rokok elektrik (e-ciggarete) Pencetus vape ini berasal dari china yang bernama Hon Lik .
Rokok Elektronik (Elecronic Nicotine Delivery Systems atau e-Cigarette) adalah sebuah inovasi dari bentuk rokok konvensional menjadi rokok modern.Rokok elektronik pertama kali dikembangkan pada tahun 2003 oleh SBT Co Ltd, sebuah perusahaan yang berbasis Beijing,RRC,yang sekarang dikuasai oleh Golden Dragon Group Ltd Pada tahun 2004,Ruyan mengambil alih proyek untuk mengembangkan teknologi yang muncul.
            Kandungan dalam rokok elektrik (vape) berbeda-beda, namun pada umumnya berisi larutan yang terdiri dari 4 jenis campuran yaitu nikoin, propilen, glikol, air, dan flavoring (perisa). Kandungan kadar nikotin dalam liquid rokok elektrik bervariasi, yaitu dari kadar rendah sampai kadar kadar tinggi. Namun, seringkali kadar nikotin yang tertera pada label tidak sesuai secara signifikan dari kadar yang sebenarnya . Nikotin termasuk salah satu jenis narkoba pada golongan zat adiktif. Golongan adiktif adalah zat-zat selain narkotika dan psikotropika yang dapat menimbulkan ketergantungan digolongkan nikotin dalam zat psikoaktif lain yang menyebabkan ketergantungan. Contoh dari zat adiktif yaitu rokok, kelompok alkohol, thinner dan zat-zat lain. Seperti yang dijelaskan bahwa narkoba adalah narkotika, psikotropika, dan zat adiktif yang merupakansekelompok zat jika masuk ke tubuh manusia dapat menyebabkan ketergantungan ( diktif) dan mempengaruhi sistem kerja otak. Termasuk di dalam jenis narkoba adalah jenis obat, bahan/ zat yang penggunaannya diatur, tetapi sering disalahgunakan seperti alkohol, nikotin, kafein, inhalansia, dan solver.
Diindonesia sendiri mencapai 10,9% dengan laki-laki lebih banyak mendengar tentang rokok elektronik yaitu 16,8% dibandingkan dengan perempuan yaitu 5,1%, sedangkan berdasarkan usia kesadaran tentang keberadaan rokok elektronik pada usia 15–24 tahun lebih besar yaitu 14,4% dibandingkan dengan pada usia 25–44 tahun yaitu 12,4%. Kesadaran tentang keberadaan rokok elektronik pada masyarakat Indonesia lebihbanyak pada masyarakat dengan tingkat pendidikan perguruan tinggi yaitu sebesar 29,4%, selain itu kesadaran tentang keberadaan rokok elektronik pada masyarakat Indonesia lebih banyak pada masyarakat yang tinggal di daerah perkotaan yaitu sebesar 15,3%. Berdasarkan pengguna rokok elektronik di Indonesia yaitu di antara pengguna baru dan mantan perokok pada tahun 2010–2011 mencapai 0,5%.
Dilansir pada idn times mengatakan bahwa terdapat kandungan pada vape yang menyebabkan timbulnya penyakit –penyakit. utamanya pengguna vape pada usia rentang remaja.Berikut adalah penjelasan penggunan vape yang perlu diwaspadai!
1.      Penurunan sistem kekebalan tubuh
Elizabeth M. Martin, dkk, melakukan penelitian yang diterbitkan melalui University of North Carolina, Chapel Hill tentang kekebalan tubuh dan kemampuan sel-sel tubuh melawan infeksi. Penelitian ini dilakukan kepada orang perokok aktif, pengguna vape, dan bukan perokok Hasilnya sangat mencengangkan, bahwa perokok aktif pengguna vape sama-sama menunjukkan tanda-tanda berkurangnya aktivitas 594 gen yang diketahui mendukung sistem kekebalan tubuh dan melawan infeksi. Penemuan ini menjadi bukti bahwa senyawa yang ditemukan dalam cairan vape yang berfungsi untuk menciptakan uap memiliki efek imunosupresif pada tubuh.
2.      Kandungan kimia di dalam vape menyebabkan bronchiolitis obliterans atau "popcorn lung"
Peneliti Harvard mengungkapkan bahwa pengguna vape beresiko mengidap penyakit bronchiolitis obliterans atau lebih akrab disebut sebagai 'popcorn lung'. Kandungan kimia di dalam vape secara sistematis menghancurkan saluran udara paru-paru terkecil. karena satu-satunya cara mengatasi penyakit ini dengan transplantasi paru-paru.
3.      Bisa kecanduan, meskipun pada katrid tertulis "nicotin-free"
Tes laboratorium FDA menemukan bahwa ditemukan kandungan nikotin yang besarnya tidak sesuai pada label katrid isi ulang. Jadi meskipun pada katrid vape tertulis "nicotin-free", belum tentu benar-benar bebas nikotin, karena kandungan nikotin yang membuat kecanduan itu ada pada katrid isi ulang.
4.      Kandungan logam dalam asap vape sama besar bahkan lebih dari asap rokok tradisional
Sebuah penelitian menemukan bahwa logam seperti timah, nikel, perak, besi, aluminium, silikat, dan kromium terkandung dalam asap vape dalam jumlah yang sama bahkan lebih besar dari yang ditemukan dalam asap rokok tradisional. Partikel-partikel tersebut dapat merusak sistem pernapasan, menimbulkan risiko kanker, dan pertumbuhan sel yang abnormal.
5.      Sebagian besar bahan Vape juga mengandung formaldehid, bahan pengawet di kamar jenazah
Seorang profesor kimia dan teknik di Portland State University di Oregon menemukan adanya formaldehid dalam cairan vape. Formaldehid adalah bahan pembuatan lem dan alat perekat, pelapis produk kertas dan bahan bangunan, bahkan sebagai bahan pengawet di kamar jenazah dan laboratorium medis.
6.      Risiko terkena penyakit pneumonia lipoid
Seorang wanita berusia 42 tahun terkena pneumonia lipoid saat baru saja menjadi pengguna vape. Kasus ini disebabkan oleh reaksi peradangan terhadap keberadaan zat lipid di paru-paru, atau timbunan lemak yang ditemukan di jaringan paru-paru. Dokter mengatakan bahwa itu semua ada hubungannya dengan minyak berbasis gliserin yang ditemukan dalam vape. Setelah berhenti menggunakan vape, kondisi pernapasannya membaik.
  Dari Pembahasan di atas dapat di simpulkan bahwa vape adalah barang yang sangat berbahaya dan bisa merusak susunan syaraf yang bisa merubah sebuah kecanduan seseorang menjadi semakin buruk dan terkontabinasi dengan alat alat lain seperti narkoba dll.

Daftar Pustaka

Fauzia, L., Lubis, S. N. and Sirait, S. yulia (2012) ‘PENGGUNAAN ROKOK ELEKTRONIK DI KOMUNITAS PERSONAL VAPORIZER SURABAYA’, J Respir Indo, 1(1), pp. 53–61. doi: 10.20473/jbe.v4i2.2016.250.
Karuniawati, A. (2019) ‘Jurusan bimbingan dan konseling fakultas ilmu pendidikan universitas negeri semarang 2019’.
Lazuardi, A. I. (no date) ‘Gaya Hidup Penggunaan Vape bidang anak muda sedang diramaikan’, pp. 1–10.
Tanuwihardja, Susanto, R. E. (2004) ‘Tanuwihardja, Susanto, Rokok Elektronik (Electronic cigarette) , (Jakata : Respir Indonesia, 2012), hal 34. 17, pp. 17-67.













Tidak ada komentar:

Posting Komentar